Kerusuhan BuolBerita Terkini >>> Kerusuhan antara polisi dan masyarakat di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah ternyata telah memakan banyak korban jiwa. Akibat penyerangan warga terhadap kantor Mapolsek Biau, pada Selasa malam tersebut hingga kini masi menyisakan situasi ibu Kota Kabupaten Buol, terasa mencekam.

Kerusuhan Buol

Kerusuhan itu berawal saat sekitar 3.000 warga yang datang dari Kelurahan Buol, Leok, Kulango, dan Kali menyerbu Kantor Polsek Biau Selasa malam, penyerbuan warga buol itu di karenakan warga buol tidak dapat menerima kematian Kasmir Timumun, seorang tukang ojek, saat di tahanan Polsek Biau.

Kasmir si tukang ojek di buol ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yng melibatkan seorang anggota kepolisian di buol, namun hari Senin dia tewas di dalam tahanan. Banyak warga mencurigai bahwa kematiannya akibat penganiayaan.

Hingga Rabu (1/9) ini, korban anggota polisi dalam insiden itu mencapai 19 orang anggota Brimob yng telah terluka, jumlah anggota Polri yang luka-luka tercatat enam orang, dan warga buol sendiri tercatat korban tewas terakhir yang dilarikan ke RSUD Buol pada Rabu dini hari itu bernama Ridwan. Warga Kelurahan Leok itu terkena tembakan di kepala.

Korban diduga sudah tewas di lokasi bentrokan sebelum dievakuasi ke rumah sakit. Korban tewas sebelumnya bernama Amran Abjalu (19). Warga Kelurahan Kali ini terkena tembakan di bagian mata. Kondisi dua korban lainnya, yakni Firman, warga Kelurahan Kali, dan Irfan, warga Leok, kini kritis. Di TKP, tiga dari empat motor milik polisi dibakar, dan satu motor lainnya dirusak.

Namun ternyata Kerusuhan Buol ini berbuntut panjang. Warga buol yng tewas di TKP di karenakan tertembus peluru di kepala. Penembakan Kepala dalam insiden Kerusuhan Buol langsung diinvestigasi, tindakan polisi dinilai tidak sesuai prosedur karena semua korban tewas tertembak di kepala.

Anggota Komisi DPRD Sulteng, Yahya R Kibi, yang berasal dari daerah pemilihan Buol dan Tolitoli mempertanyakan prosedur penembakan warga sipil di Buol saat berdialog dengan Wakil Kapolda Sulteng Kombes Pol Drs. Dewa Parsana, M.Si di Mapolda Sulteng, Rabu (1/9/2010). Yahya mensinyalir peluru yang digunakan adalah peluru asli karena korban ditembak di mata hingga tembus ke belakang.

Menjawab hal tersebut, Waka Polda Sulteng Dewa Parsana mengatakan, tahapan-tahapan pengamanan di Buol sudah dilakukan, diawali dengan pendekatan yang lunak. Hanya saja kata Parsana, karena situasi yang tidak normal lagi sehingga terjadilah aksi saling serang. “Situasinya terjadi pada malam hari dalam kondisi yang gelap,” dalih Parsana.

“Kenapa polisi menembak di bagian kepala bukan di bagian kaki. Apakah ini sudah sesuai prosedur,” kata Yahya.

“Kalau memang ada kesalahan dari anggota Polri akan diambil tindakan tegas karena setiap butir peluru harus dipertanggung jawabkan,” lanjutnya.

Terkait berita Kerusuhan >>> Bentrok Di Makam Mbah Priok | Tragedi Sampit | Foto Tragedi Sampit Dayak vs Madura.