Informasi Terbaru – Mahasiswa YAI melaporkan kasus pemukulan saat pesta kelulusan di kampus ke Polisi. Laporan tidak digubris. Malah Mereka Dimintai Uang.

Hampir satu bulan Beta dan Chandra tidak bisa berkuliah. Dua mahasiswa Fakultas Psikologi, Lembaga Pendidikan Tinggi Yayasan Administrasi Indonesia (LPT YAI), Salemba, itu sekarang justru harus meringkuk di penjara. Keduanya dijebloskan ke sel oleh lembaga pendidikan tempat mereka menuntut ilmu dengan tuduhan melakukan perusakan pos satpam dan perbuatan tidak menyenangkan.

Lapor Polisi, Berani Bayar Berapa

Nasib malang itu bermula dari pesta kelulusan Bernard, teman satu fakultasnya, Selasa malam, 17 Juli 2012. Menjelang tengah malam ternyata pesta yang digelar di kampus itu belum juga usai. Reni, salah satu teman Beta dan Chandra, kemudian meminta perpanjangan waktu pesta ke Nyoman Surna selaku otorita kampus. Nyoman pun setuju dan memperpanjang kegiatan para mahasiswa itu hingga pukul 01.00 WIB dini hari.

Namun siapa sangka, saat pesta meriah berlangsung, ada seorang tidak dikenal menghampiri mereka. Orang itu langsung meninju wajah Widia, peserta pesta. Suasana pesta pun menjadi kacau. “Pada pemukulan itu muncul enam orang. Mereka adalah Nyoman Surna, dua orang satpam kampus, dan 3 orang yang kami duga orang bayaran,” jelas Reni kepada detik.

Bukan hanya memukul, enam orang tamu tak diundang itu juga mencekik leher Reni yang tak sengaja merekam aksi brutal itu lewat telepon genggamnya. Akibatnya, kacamata Reni pun terjatuh dan pecah. Buntut kejadian itu beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi YAI, kemudian melapor ke Polres Jakarta Pusat. Namun sayang mereka justru dimintai uang.

“Di sini kalau mau bikin laporan harus bayar, punya duit nggak lu?” ujar Reni menirukan omongan petugas piket Polres Metro Jakarta Pusat.

Padahal para mahasiswa yang melapor sudah membawa sejumlah barang bukti berupa visum dokter RSCM dan hasil investigasi yang mereka lakukan terkait aksi penganiayaan itu. Namun tetap saja tidak digubris. Sehari setelah pelaporan itu, Nyoman Surna, meminta maaf kepada mahasiswa korban kekerasan di malam pesta kelulusan itu. Nyoman meminta maaf di hadapan mahasiswa psikologi yang sedang berkumpul di parkiran Fakultas Psikologi YAI.

Namun anehnya, seminggu setelah permintaan maaf Nyoman, pada 24 Juli 2012, pihak kampus justru mengeluarkan surat skors kepada semua mahasiswa yang ada di lokasi saat penganiayaan terjadi. Mereka diskors selama 2 semester. Beta dan Chandra tentu saja tidak bisa menerima sanksi yang dinilai tidak jelas itu. Mereka pun menggugat kebijakan itu dengan meminta penjelasan pihak kampus. Beberapa pejabat kampus coba didatangi. Namun tidak ada yang menggubris klarifikasi yang diharapkan Beta dan Chandra.

Karena merasa dicueki, keduanya lantas mendatangi pos satpam untuk meminta klarifikasi. Sialnya, satpam yang bertugas saat itu justru menantang Beta dan Chandra berkelahi. Emosi Beta dan Chandra pun langsung meledak. Kaca pos satpam akhirnya mereka pecahkan. “Chandra tidak berbuat apa-apa. Yang pecahin kaca si Beta. Dia (Beta) kepancing emosi akibat ulah satpam. Tapi aneh keduanya malah dipenjara,” terang Hery, salah satu rekan Chandra.

Karena tidak mendapat keadilan dari polisi dan kampus, rekan-rekan Chandra dan Beta kemudian mengadukan masalah itu ke Komnas HAM, 28 Agustus 2012. “Kami akan memanggil pihak kampus maupun kepolisian untuk memberikan kejelasan atas kasus ini,” ujar Johny Nelson Simanjuntak, Komisioner Komnas HAM kepada majalah detik.

Menurut prinsip Nelson, lembaga pendidikan harusnya mengutamakan kepentingan pendidikan anak didiknya. Tidak sewajarnya kekerasan mewarnai sistem pendidikan. Apalagi sampai menjebloskan anak didiknya ke penjara.

“Kampus itu di mana-mana kan membantu supaya bisa diselesaikan secara internal. Janganlah langsung dipolisikan, ini masalah sebenarnya sangat mudah jalan keluarnya,” begitu pandangan Nelson.

Yang sangat terpukul tentu saja orang tua Beta dan Chandra. Murdi (56), ibunda Chandra sangat menyayangkan anaknya harus masuk bui gara-gara hal sepele. “Kenapa anak saya harus dipenjara? Ini kan hanya masalah sepele. Dari kecil dia tak pernah menyusahkan saya,” ujar Murdi, perawat rumah sakit swasta di Jakarta.

Begitu juga dengan Jemmy Anderson, ayah Beta. Ia berharap pihak kampus memiliki iktikad baik untuk mengklarifikasi kasus anaknya. “Saya ingin penjelasan dari kampus, kalau anak saya salah saya terima, jika harus diskorsing, tapi jangan penjarakan dia,” keluhnya.

Desy S Anas, Ka Biro Humas LPT YAI kepada majalah detik, 31 Agustus 2012 di Kampus Psikologi LPT YAI Jalan Diponegoro, membantah adanya penganiayaan yang dilakukan otorita kampus terhadap mahasiswa, “Karena oknum mahasiswa tidak mengindahkan imbauan sekuriti maka pihak sekuriti dan otorita melakukan pengusiran paksa yang berakibat terjadi bentrokan yang tidak dapat dihindari.”

Sementara Ketua Yayasan LPT YAI, Julius Sjukur, tidak memberi banyak penjelasan. Di ujung telepon, pria itu hanya bilang, masalah akademik tanyakan rektor, kalau kriminal tanyakan polisi. “Saya nggak mau ikut campur dalam kasus ini,” ujarnya.

Polres Metro Jakarta Pusat yang menangani perkara ini pun setali tiga uang. Mereka memilih bungkam. Kanit Krimum AKP Supriyadi, yang menangani kasus itu enggan memberi pernyataan saat coba dikonfirmasi majalah detik.

Namun Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto tidak yakin ada polisi yang minta uang saat mahasiswa YAI melapor. Ia mempersilakan para mahasiswa melapor ke Propam.

“Kalau ada anggota polisi yang melakukan pungutan, masyarakat seharusnya laporkan saja masalah itu ke Propam.“

Jika memang terbukti ada permintaan uang, akan ditindak tegas,” ujar Rikwanto.