Meisya Pelaku Penusukan Listya Tak Pernah Minta Maaf – Kondisi Mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) yang menjadi korban penusukan teman satu kampusnya sendiri, Listya Magdalena, semakin membaik. Rencananya, Listya akan segera pulang ke rumah. Listya mengaku masih trauma dengan sosok Meisya Natalia, yang tega melukai dirinya dengan cara menusuk sebanyak 17 kali.
“Saya masih trauma, dia minta maaf saja tidak. Saya tak percaya kalau dia punya kelainan jiwa, karena prestasinya di kampus bagus”
Ujar Listya di Rumah Sakit Puri Indah saat di wawancarai. Sementara itu, salah seorang keluarga Listya yang tak ingin disebut namanya mengatakan, pihaknya akan mencari tahu apakah Meisya benar-benar di rawat di rumah sakit jiwa atau tidak. Pihaknya khawatir, ini hanya sebuah kamuflase saja.
“Seharusnya di penjara bukan di RSJ. Ada apa antara keluarga Meisya dengan polisi? Setahu kami Meisya orang kaya. Bapaknya Direktur Bank Buana”
Tandas perempuan yang mengaku tante Listya tersebut.



Meisya terlibat cekcok dengan Listy saat berada di dalam mobil Toyota Yaris B 1733 BFP milik Listy yang sedang melaju dari Mall Puri Indah menuju Karawaci. Entah apa pemicunya, tiba-tiba Meisya menusuk Listya dengan sebuah pisau sebanyak 17 tusukan tanpa ampun.

Meisya Tersangka pelaku penusukan Listya teman satu kampusnya jalani tes kebohongan & Psikologi. Meisya Natalia, telah mempunyai jadwal menjalani pemeriksaan kejiwaan dan tes menggunakan lie detector. Meisya yang dikenakan wajib lapor ini, diperiksa di Mapolsek Kembangan, Jakarta Barat. Hal ini dibenarkan oleh salah satu anggota Polsek Kembangan Aiptu Simanihuruk. Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Kamil Razak mengatakan, pihaknya terpaksa melakukan uji kebohongan ini lantaran baik tersangka maupun korban sama-sama tidak mengakui sebagai pemilik pisau dapur yang dijadikan alat kejahatan.
“Tersangka tidak mengakui pisau itu milik dia dan tidak ada saksi yang melihat”
kata Kamil kemarin. Jadi guna mengetahui kondisi kejiwaan tersangka Maisya Natalia (18), penyidik kasus penusukan yang terbilang sadis ini mendatangkan psikiater. Selama proses pemeriksaan pun, mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) itu selalu dibalut alat pendeteksi kebohongan alias lie detector.
“Untuk mengetahui sejauh mana kondisi kejiwaannya dan kejujurannya dalam memberikan keterangan” ujar Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Kamil Razak kepada wartawan di Jakarta.

Sementara itu, penyidik kepolisian juga belum meminta keterangan Listya Magdalena dengan alat sama karena masih dalam proses penyembuhan setelah tubuhnya dihujam 17 tusukan oleh Maisya pada Rabu, 17 Maret, malam. Saat kejadian, baik korban maupun pelaku, berada dalam mobil Toyota Yaris nomor polisi B 1733 BFP yang tengah melaju dari Mal Puri Indah, Kembangan, menuju Mal Karawaci, Tangerang. Mobil baru berhenti setelah menabrak mobil lain dari arah berlawanan.



Diduga pelaku menusukkan pisau ke tubuh korban yang sedang berada dibalik kemudi. Pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi pada Jumat, 19 Maret lalu. Namun hingga kini Maisya belum ditahan. Polisi hanya mengenakan wajib lapor kepada Maisya.

Kemudian terdengar kabar Meisya Natalia (18) menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus Gangguan Jiwa Dharma Sakti. Meisya Natalia dibawa ke rumah sakit itu oleh orangtuanya karena diketahui menderita kelainan jiwa.
“Tersangka harusnya wajib lapor, namun hari ini orangtuanya membawa dia ke rumah sakit jiwa. Kami sudah cek tersangka dirawat inap dan baru hari ini masuk. Dia langsung ditangani dr Micael Bagja”
papar Kanit Reskrim Polsek Kembangan Ipda Alexander di Polsek Kembangan, Jakarta, Kamis (25/3/2010).

Menurut Alexander, Meisya Natalia menunjukan gajala-gejala di antaranya tidak menjawab bila ditanya, wajahnya tidak berekpresi seperti topeng, serta menunjukkan kondisi berdiam diri. Setelah melakukan pemeriksaan elektro encephalogram (EG), ternyata ditemukan kelainan gelombang listrik di otak yang cukup jelas di daerah temporal, parietal, dan occipital kanan.
“Kesimpulannya, tersangka menderita temporal lobe epilepsy dengan gejala klinis violence, agresif, behavior abnormality,” ujar Alexander. Kendati demikian, pihak kepolisian belum mencabut status pelaku.
“Kita masih menetapkan dia tersangka, menurut orangtua memang dia menderita penyakit sejenis kelainan jiwa dan sering kumat. Ketika kami tanyai, dia dan korban tidak akrab dan tidak tahu permasalahannya apa” paparnya.
“Saat ini kita ancam pasal 351 dengan ancaman lima tahun penjara,” pungkasnya.

Setelah terjadi penusukan yang dilakukan oleh Meisya Natalia. Hingga kini belum jelas akar persoalan dalam kasus penganiayaan yang mengakibatkan Listya menderita 17 luka tusuk ini.