Pelaku Penganiaya Aktivis ICW Diketahui – Polisi telah mengetahui kelompok yang telah menganiaya aktivis Indonesia Corruption Watch, Tama Satrya Langkun (25). Kini polisi sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk segera melakukan penangkapan kepada pelaku. Dari bukti yang telah diperoleh polisi, penganiayaan terhadap Tama merupakan tindakan yang sangat terencana dan matang.

Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD berpendapat pelaku penyerangan aktivis ICW adalah orang yang melawan pemberantasan korupsi. Hingga membuat semaput Aktivis ICW Tama Satrya Langkun sebagai pihak yang melaporkan kasus rekening gendut Polri (rekening mencurigakan milik sejumlah perwira Polri ke Komisi Pemberantasan Korupsi).

Berbekal kesaksian Tama Satrya Langkun sendiri dan rekannya, Laode Moammar Khadafi, teman yang mengetahui penganiayaannya. polisi bisa memburu para pelaku.
“Ciri-cirinya sudah dikenali korban. Bahkan, korban mengaku sudah dikuntit sejak tiga hari lalu”
Kata Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Polri Komisaris Besar Polisi Marwoto Soeto.

Anggota Dewan Pekerja Indonesian Coruption Watch (ICW) Lilian Deta Sari, mengisahkan bahwa sejak Jumat pekan lalu, Tama sudah di kuntit dan dia merasakan betul kejanggalan itu. Namun hal itu tidak dilaporkan karena itu di anggap kerjaan intel. Kejanggalan lainnya sebelum dianiaya, Tama mendapat telepon dari wartawan yang mengaku dari harian Kompas untuk mewawancarai. Tapi, anehnya, wartawan tersebut ketika diajak bertemu dikantor ICW menolak.

Seperti diketahui Tama jadi korban penganiayaan yang dilakukan empat orang tidak dikenal. ketika melintas Kawasan Duren Tiga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tama sempat dirawat di lantai dua ruang 206 Rumah Sakit Asri Jl Duren Tiga karena mengalami tiga luka pada bagian kepala dan harus dijahit sebanyak 29 jahitan.

Setelah Tama meninggalkan rumah sakit, untuk sementara, Tama tinggal di kantor ICW di Kalibata, Jakarta Selatan. Terkait keluarnya Tama dari rumah sakit itu, Marwoto mengatakan, pihaknya siap memberikan perlindungan.
“Itu kan hak dari mereka. Kalau dia minta perlindungan ya kita berikan. Yang jelas kita melindungi, khususnya pada Tama” kata Marwoto.

Penganiayaan Tama terjadi berselang dua hari setelah pelemparan bom molotov di kantor Majalah Tempo di Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Sebelumnya, Majalah Tempo menurunkan laporan utama tentang kasus rekening mencurigakan milik sejumlah perwira tinggi Polri. Namun mabes Polri meminta publik dan media massa untuk tidak menuduh kepolisian sebagai pelaku penganiayaan dan pelaku pelempar bom di kantor majalah Tempo tersebut.

Semoga saja bukan POLISI ๐Ÿ™