Tragedi Sampit – Sampit, Februari 2001 Pemerintah terpaksa harus membentuk TPM (Tim Pemburu Mayat). Karena kerusuhan bernuansa etnis di Sampit meletus. Pembunuhan atau bahkan genocide ala Sampit, bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Akan tetapi ada dimensi baru yang sangat mengerikan dalam tragedi di Kalimantan Tengah, yakni mayat-mayat tanpa kepala yang berserakan di jalan dan di mana-mana, telah merupakan pemandangan yang sangat menggoncangkan rasa kemanusiaan seluruh bangsa Indonesia.

Dengan alasan masih belum bisa dipastikan, sebuah rumah milik penduduk asli Dayak dibakar habis. Menurut laporan orang-orang setempat, ada komplotan orang Madura yang baru saja tiba berkeliling Sampit sambil memekik ‘Matilah Orang Dayak’. Ratusan orang Dayak mengungsi keluar dari kota atau berlindung di gereja-gereja. Namun setelah berita itu menyebar ternyata orang Dayak dalam jumlah besar kemudian kembali ke Sampit untuk membalas dendam. Enam orang tewas. Etnis Dayak begitu beringas membunuh tanpa pandang bulu, wanita dan anak-anak pun turut menjadi korban. Kerusuhan menyebar dengan cepat ke kota maupun kampung sekitar dan mencapai ibukota propinsi Palangkaraya, 220 kilimeter ke sebelah Timur. Dalam sebuah insiden terburuk saat kerusuhan, 118 orang Madura yang sedang dalam perjalanan ke Sampit dibunuh oleh orang Dayak di kampung Parenggean pada tanggal 25 Februari, setelah polisi pengawal mereka melarikan diri.

Sebelumnya hanya dalam jangka 2 hari Kota Sampit dikuasai oleh etnis Madura. Tapi pada malam yang ketiga Suku Dayak melakukan penyerangan besar-besaran di dua Kecamatan yaitu Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, dua kecamatan yang 85 % penduduknya terdiri dari etnis Madura. Banyak nyawa telah melayang akibat penyerangan itu. Etnis Madura hampir di babat habis, dengan cara mengayau oleh etnis Dayak. Sebenarnya tradisi mengayau di etnis Dayak telah lama di tinggalkan namun memenggal kepala musuh ini kembali di lakukan lagi, entah apa yang telah mendorong mereka melakukannya, apa lagi tanpa berprikemanusiaan.

Sejak pertikaian antara dua etnis yang kerap berseteru, Madura dan Dayak. Selama dua pekan, di Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Timur itu, dengan mudah menemukan mayat-mayat tanpa kepala. Bahkan kaki bisa tersandung mayat saat menyusuri ruas jalan di Sampit. Jenazah korban pembantaian oleh etnis Dayak memang berserakan nyaris di setiap sudut kota, terutama di lokasi kediaman etnis Madura. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mencatat, korban jatuh mencapai sekitar 500 orang dan menyebabkan 80.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mengungsi. Dan menurut data kepolisian, 319 lebih rumah dibakar dan sekitar 197 lainnya dirusak.

Banyak sekali Versi – versi cerita yang beredar terkait aksi pembasmian etnis ini, yang jelas hal ini membuat Sampit terkoyak. Adat orang Madura yang membawa parang atau celurit ke mana pun pergi, membuat orang Dayak melihat sang “tamu”-nya selalu siap berkelahi. Sebab, bagi orang Dayak, membawa senjata tajam hanya dilakukan ketika mereka hendak berperang atau berburu. Ketidak samaan pandangan hidup ini mungkin adalah persoalan yang semula kecil namun meledak tak karuan, Hingga melahirkan kasus-kasus baru yang tak terpecahkan bahkan oleh penegak hukum di Sampit, kemudian berujung Sampit menjadi tempat manusia-manusia tak bernyawa tanpa kepala. Terbunuh dengan sadis, berserakan dimana-mana. Amarah ini sperti BOM WAKTU, rasa amarah yang telah di simpan lama oleh etnis Dayak. Sungguh sadis dan sangat menyedihkan.

Salah satu sumber mengatakan (http://www.shodikin.20m.com/) :
Apa yang dikatakan pemerintah bahwa korban yang meninggal sekitar 400-an orang, jelas merupakan angka yang sudah direkayasa supaya tidak menghadirkan kepanikan bangsa. Namun saya mendapat dua laporan langsung dari lokasi kejadian, bahwa sesungguhnya yang meninggal sudah lebih dari 1.000 orang.

Berkaitan dengan Tragedi Sampit >>>

~ Peristiwa Memicu Tragedi Sampit Dayak vs Madura

~ Foto Gambar Tragedi Sampit